"tidak adakah.... pelajaran yang dapat dipetik dari mengunjungi dan membaca Risalah elkahfie...??!!!"

Minggu, 03 April 2011

Tawassul

وعن أبي عبد الرحمن عبد الله بن عمر بن الخطاب، رضي الله عنهما قال‏:‏ سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول‏:‏ ‏"‏ انطلق ثلاثة نفر ممن كان قبلكم حتى آواهم المبيت إلى غار فدخلوه، فانحدرت صخرة من الجبل فسدت عليهم الغار، فقالوا‏:‏ إنه لا ينجيكم من هذه الصخرة إلا أن تدعوا الله بصالح أعمالكم‏.‏ قال رجل منهم‏:‏ اللهم كان لي أبوان شيخان كبيران، وكنت لا أغبق قبلهما أهلاً ولا مالاً‏.‏ فنأى بى طلب الشجر يوماً فلم أرح عليهما حتى ناما فحلبت لهما غبوقهما فوجدتهما نائمين فكرهت أن أوقظهما وأن أغبق قبلهما أهلاً أو مالاً، فلبثت- والقدح على يدى- أنتظر استيقاظهما حتى برق الفجر والصبية يتضاغون عند قدمى- فاستيقظا فشربا غبوقهما‏.‏ اللهم إن كنت فعلت ذلك ابتغاء وجهك ففرج عنا ما نحن فيه من هذه الصخرة، فانفرجت شيئاً لا يستطيعون الخروج منه‏.‏ قال الآخر‏:‏ اللهم إنه كانت لي ابنة عم كانت أحب الناس إلىّ ‏"‏ وفى رواية‏:‏ ‏"‏كنت أحبها كأشد ما يحب الرجال النساء، فأردتها على نفسها فامتنعت منى حتى ألمّت بها سنة من السنين فجاءتنى فأعطيتها عشرين ومائة دينار على أن تخلى بينى وبين نفسها ففعلت، حتى إذا قدرت عليها‏"‏ وفى رواية‏:‏ ‏"‏فلما قعدت بين رجليها، قالت‏:‏ اتق الله ولا تفض الخاتم إلا بحقه، فانصرفت عنها وهى أحب الناس إلى وتركت الذهب الذى أعطيتها، اللهم إن كنت فعلت ذلك ابتغاء وجهك فافرج عنا ما نحن فيه، فانفرجت الصخرة غير أنهم لا يستطيعون الخروج منها‏.‏ وقال الثالث‏:‏ اللهم استأجرت أجراء وأعطيتهم أجرهم غير رجل واحد ترك الذى له وذهب، فثمرت أجره حتى كثرت منه الأموال، فجاءنى بعد حين فقال‏:‏ يا عبد الله أدّ إلى أجرى، فقلت‏:‏ كل ما ترى من أجرك‏:‏ من الإبل والبقر والغنم والرقيق‏.‏ فقال‏:‏ يا عبد الله لا تستهزئ بى‏!‏ فقلت‏:‏ لا أستهزئ بك، فأخذه كله فاستاقه فلم يترك منه شيئاً، اللهم إن كنتُ فعلت ذلك ابتغاء وجهك فافرج عنا ما نحن فيه، فانفرجت الصخرة فخرجوا يمشون‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏

Dari Abu Abdur Rahman, Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiallahu 'anhuma, katanya: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Ada tiga orang dari golongan orang-orang sebelummu sama berangkat berpergian, sehingga terpaksalah untuk menempati sebuah gua guna bermalam, kemudian merekapun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung, lalu menutup gua itu atas mereka. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau semua dari batu besar ini melainkan jikalau engkau semua berdoa kepada Allah Ta'ala dengan menyebutkan perbuatanmu yang baik-baik.

Seorang dari mereka itu berkata: "Ya Allah. Saya mempunyai dua orang tua yang sudah tua-tua serta lanjut usianya dan saya tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum keduanya itu, baik kepada keluarga ataupun hamba sahaya. Kemudian pada suatu hari amat jauhlah saya mencari kayu - yang dimaksud daun-daunan untuk makanan ternak. Saya belum lagi pulang pada kedua orang tua itu sampai mereka tertidur. Selanjutnya saya pun terus memerah minuman untuk keduanya itu dan keduanya saya temui telah tidur. Saya enggan untuk membangunkan mereka ataupun memberikan minuman kepada seseorang sebelum keduanya, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Seterusnya saya tetap dalam keadaan menantikan bangun mereka itu terus-menerus dan gelas itu tetap pula di tangan saya, sehingga fajar pun menyingsing, Anak-anak kecil menangis kerana kelaparan dan mereka berada di dekat kedua kaki saya. Setelah keduanya bangun lalu mereka minum minumannya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan keridhaanMu, maka lapanglah kesukaran yang sedang kita hadapi dari batu besar yang menutup ini." Batu besar itu tiba-tiba membuka sedikit, tetapi mereka belum lagi dapat keluar dari gua.

Yang lain berkata: "Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai seorang anak bapak saudara yang wanita - sepupu wanita - yang merupakan orang yang tercinta bagiku dari sekalian manusia - dalam sebuah riwayat disebutkan: Saya mencintainya sebagai kecintaan orang-orang lelaki yang amat sangat kepada wanita - kemudian saya menginginkan dirinya, tetapi ia menolak kehendakku itu, sehingga pada suatu tahun ia memperoleh kesukaran. la pun mendatangi tempatku, lalu saya memberikan seratus dua puluh dinar padanya dengan syarat ia suka menyendiri antara tubuhnya dan antara tubuhku -maksudnya suka dikumpuli dalam seketiduran. Ia berjanji sedemikian itu. Setelah saya dapat menguasai dirinya - dalam sebuah riwayat lain disebutkan: Setelah saya dapat duduk di antara kedua kakinya - sepupuku itu lalu berkata: "Takutlah engkau pada Allah dan jangan membuka cincin - maksudnya cincin di sini adalah kemaluan, maka maksudnya ialah jangan melenyapkan kegadisanku ini - melainkan dengan haknya - yakni dengan perkawinan yang sah -, lalu saya pun meninggalkannya, sedangkan ia adalah yang amat tercinta bagiku dari seluruh manusia dan emas yang saya berikan itu saya biarkan dimilikinya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian dengan niat untuk mengharapkan keridhaanMu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kita hadapi ini." Batu besar itu kemudian membuka lagi, hanya saja mereka masih juga belum dapat keluar dari dalamnya.

Orang yang ketiga lalu berkata: "Ya Allah, saya mengupah beberapa kaum buruh dan semuanya telah kuberikan upahnya masing-masing, kecuali seorang lelaki. Ia meninggalkan upahnya dan terus pergi. Upahnya itu saya perkembangkan sehingga bertambah banyaklah hartanya tadi. Sesudah beberapa waktu, pada suatu hari ia mendatangi saya, kemudian berkata: Hai hamba Allah, tunaikanlah sekarang upahku yang dulu itu. Saya berkata: Semua yang engkau lihat ini adalah berasal dari hasil upahmu itu, baik yang berupa unta, lembu dan kambing dan juga hamba sahaya. Ia berkata: Hai hamba Allah, janganlah engkau memperolok-olokkan aku. Saya menjawab: Saya tidak memperolok-olokkan engkau. Kemudian orang itu pun mengambil segala yang dimilikinya. Semua digiring dan tidak seekorpun yang ditinggalkan. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian ini dengan niat mengharapkan keridhaanMu, maka lapangkanlah kita dari kesukaran yang sedang kita hadapi ini." Batu besar itu lalu membuka lagi dan mereka pun keluar dari gua itu. (Muttafaq 'alaih).


Keterangan:

Beberapa kandungan yang penting-penting dalam Hadits di atas, yaitu:

(a) Kita disunnahkan berdoa kepada Allah di kala kita sedang dalam keadaan yang sulit, misalnya mendapatkan malapetaka, kekurangan rezeki dalam kehidupan, sedang sakit dan lain-lain.

(b) Kita disunnahkan bertawassul dengan amal perbuatan kita sendiri yang shalih, agar kesulitan itu segera lenyap dan diganti dengan kelapangan oleh Allah Ta'ala. Bertawassul artinya membuat perantaraan dengan amal shalih itu, agar permohonan kita dikabulkan olehNya. Bertawassul dengan cara seperti ini tidak ada seorang ulama pun yang tidak membolehkan. Jadi beliau-beliau itu sependapat tentang bolehnya.

Juga tidak diperselisihkan oleh para alim-ulama perihal bolehnya bertawassul dengan orang shalih yang masih hidup, sebagaimana yang dilakukan oleh Sayidina Umar r.a. dengan bertawassul kepada Sayidina Abbas, agar hujan segera diturunkan.

Yang diperselisihkan ialah jikalau kita bertawassul dengan orang-orang shalih yang sudah wafat, maksudnya kita memohonkan sesuatu kepada Allah Ta'ala dengan perantaraan beliau-beliau yang sudah di dalam kubur agar ikut membantu memohonkan supaya doa kita dikabulkan. Sebahagian alim-ulama ada yang membolehkan dan sebahagian lagi tidak membolehkan.

Jadi bukan orang-orang shalih itu yang dimohoni, tetapi yang dimohoni tetap Allah Ta'ala, tetapi beliau-beliau dimohon untuk ikut membantu mendoakan saja. Kalau yang dimohoni itu orang-orang yang sudah mati, sekalipun bagaimana juga shalihnya, semua alim-ulama Islam sependapat bahwa perbuatan sedemikian itu haram hukumnya. Sebab hal itu termasuk syirik atau menyekutukan sesuatu dengan Allah Ta'ala yang Maha Kuasa Mengabulkan segala permohonan.

Namun demikian hal-hal seperti di atas hanya merupakan soal-soal furu'iyah (bukan akidah pokok), maka hendaknya jangan menyebabkan retaknya persatuan kita kaum Muslimin

Selasa, 21 Desember 2010

Hakekat Sebenarnya Kita

Dahulu kala…
terdapat sebatang pohon jambu yang amat besar. Dan seorang anak lelaki yang begitu gemar bermain-main di sekitar pohon jambu ini setiap hari. Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan jambu sepuas hatinya, dan adakalanya dia beristirahat lalu terlelap di perdu pohon jambu tersebut. Anak lelaki itu begitu menyayangi tempat permainannya. Pohon jambu pun demikian… ia juga menyukai anak tersebut.

Hari berganti...
anak lelaki itu sudah tumbuh besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan masanya setiap hari bermain di sekitar pohon jambu tersebut.
Namun demikian, suatu hari dia datang kepada pohon jambu tersebut dengan wajah yang sedih.
"Janganlah bersedih… bermain-mainlah di sekitarku…," ajak pohon jambu itu.
"Aku bukan lagi anak-anak, aku tidak lagi gemar bermain denganmu...," jawab remaja itu.
"Yang aku inginkan adalah permainan…. Dan aku memerlukan uang untuk membelinya…," tambah remaja itu dengan nada yang sedih.
Lalu pohon jambu itu berkata, "Kalau begitu..., petiklah jambu-jambu yang ada padaku. Lalu juallah untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang kauinginkan…!!!"
Remaja itu dengan gembiranya memetik semua jambu dipohon itu dan pergi dari tempat itu. Dia tidak kembali lagi selepas itu. Pohon jambu pun merasa sedih.

Masa berlalu...
Suatu hari, remaja itu kembali. Dan dia semakin dewasa.
Pohon jambu itu merasa gembira."Kemarilah… bermain-mainlah di sekitarku…," ajak pohon jambu itu.
"Aku tiada waktu lagi untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membina rumah, sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Dapatkah kau menolongku?..." Tanya lelaki itu.
"Maafkan aku…. Aku tidak mempunyai rumah, Tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan buatlah rumah daripadanya." Pohon jambu itu memberikan dahan-dahannya.
Lantas…, remaja yang semakin dewasa itu, memotong semua dahan pohon jambu itu dan pergi dengan gembira.
Pohon jambu itu pun turut gembira, tetapi kemudian… ia merasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagi selepas itu.

Suatu hari yang panas….,
seorang lelaki datang menemui pohon jambu itu. Sebenarnya dia adalah anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon jambu itu. Dia telah matang dan dewasa.
"Kemarilah… bermain-mainlah di sekitarku…," ajak pohon jambu itu.
"Maafkan aku…, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di sekitarmu, Aku sudah dewasa…. Aku mempunyai cita-cita untuk belayar. Tetapi… aku tidak mempunyai rakit untuk berlayar, Dapatkah kau menolongku?..." Tanya lelaki itu.
"Aku tidak mempunyai rakit untuk kuberikan kepadamu. Tetapi kau boleh memotong batangku untuk kau jadikan rakit. Kau akan dapat belayar dengan gembira," kata pohon jambu itu.
Lelaki itu merasa amat gembira dan menebang batang pohon jambu itu.
Dia kemudiannya pergi dari dengan gembiranya dan tidak kembali lagi selepas itu.

Namun demikian…,
pada suatu hari..., seorang lelaki yang semakin dimamah usia, datang menuju pohon jambu itu. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon jambu itu.
"Maafkan aku…. Aku tidak mempunyai ada apa-apa lagi untuk kuberikan kepadamu. Aku sudah memberikan buahku untuk kau jual…, Kuberikan dahanku untuk kau buat rumah…, Kuberikan batangku untuk kau jadikan rakit…., Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati..." kata pohon jambu itu dengan nada pilu.
"Aku tidak menginginkan buahmu karena aku sudah tidak bergigi lagi untuk memakannya, aku juga tidak menginginkan dahanmu karena aku sudah tua untuk memotongnya, dan aku juga tidak menginginkan batang pohonmu karena aku tak ingin belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat….," jawab lelaki tua itu.
"Kalau begitu…, istirahatlah di perduku....!!," kata pohon jambu itu.
Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon jambu itu hingga terlelap. Mereka berdua menangis gembira….

Sebenarnya, pohon jambu yang dimaksudkan didalam cerita ini adalah kedua orang tua kita. Bila kita masih kecil, kita suka bermain dengan mereka. Ketika kita meningkat remaja, kita perlukan bantuan mereka untuk melanjutkan hidup. Kita tinggalkan mereka, dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita didalam kesusahan.
Namun demikian, mereka tetap membantu kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dan gembira dalam menjalani kehidupan. Anda mungkin terfikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap pohon jambu itu, tetapi fikirkanlah... !! itulah hakikatnya bagaimana kebanyakan kita… Hargailah jasa orang tua kepada kita. Jangan hanya menghargai mereka semasa menyambut hari ibu setiap tahun saja…...



**************************

Disaat Ibumu tidur lelap...
cobalah kau pandangi dia dalam-dalam...!!
"Bayangkan... jika matanya tak terbuka lagi selamanya....
tangannya.. tak mampu lagi menghapus air matamu....
tak ada lagi nasehat-nasehatnya... yang sering kau abaikan...
Bayangkan... apabila Ibumu sudah tiada....
apakah kamu sudah mampu membahagiakannya....???
yang sekian kalinya ia selalu membahagiakanmu....
memenuhi semua kehendakmu...."

Senin, 08 November 2010

Bukan wedhus, bukan sapi juga bukan kebo...

Bedakan olehmu shobat.. antara Qurban dengan korban... Qurban merupakan sarana (taqarrub ilallah) mendekatkan diri pada Allah SWT, Sedangkan, makna Qurban, dapat kita pahami dari kisah kedua anak Adam, Qabil dan Habil. saat mereka melakukan qurban sebagai jalan keluar perselisihan mereka, Allah SWT, berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Maidah :27
"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa".
Qabil dan Habil adalah putra Adam-Hawa. Allah memberikan karunia Adam dan Hawa keturunan, yang setiap anak dilahirkan kembar (laki-laki dan perempuan), dan menurut syari'at Nabi Adam as, bahwa setiap saudara yang lahir bersamaan (laki-laki dan perempuan) tidak boleh dinikahkan. Oleh karena itu Adam hendak menikahkan Qabil dengan saudara kembarnya Habil yang bernama Labuda, dan Habil dinikahkan dengan saudara kembarnya Qabil yang bernama Iqlima. Akan tetapi keputusan itu tidak disetujui oleh Qabil, karena saudara kembarnya Qabil sangat cantik, sehingga Qabil tidak mau dinikahkan dengan saudara kembarnya Habil. Kemudian Nabi Adam As, memerintahkan kepada keduanya (Qabil dan Habil) agar melaksanakan Qurban dijalan Allah, dan barangsiapa yang qurbannya diterima , maka ia akan dinikahkan dengan saudara kembarnyanya Qabil, yakni Iqlima.
Ternyata Allah menerima qurbannya Habil, sedangkan qurbannya Qabil tertolak. dengan demikian Habil berhak menikahi saudara kembarnya Qabil yang sangat cantik rupawan, dan Qabil harus menikahi saudara kembarnya Habil yang bernama Labuda. Melihat keputusan semacam itu Qabil merasa tidak puas, karena dorongan hawa nafsu dan hasutan-hasutan syetan laknatullah, Qabil pun akhirnya membunuh saudaranya sendiri (Habil). Setelah Habil terbunuh, dalam hati Qabil merasa menyesal atas perbuatan yang dilakukannya, dan ia merasa bingung bagaimana cara menyelesaikan jasad saudaranya yang sudah terbunuh itu. Maka Allah memperlihatkan dua ekor burung gagak yang berkelahi dan seekor diantaranya mati terbunuh, kemudian burung gagak yang masih hidup itu menggali-gali tanah dengan paruh dan kakinya, setelah itu bangkai kawannya dimasukkan (dikuburkan) kemudian ditimbun dengan tanah. Dengan demikian Qabil dapat menguburkan saudaranya (Habil) yang telah dibunuhnya, sebagaimana yang dicontohkan seekor burung gagak tersebut.


Hawa nafsu senantiasa menghambat kita dalam tugas dan kewajiban terhadap agama, nusa dan bangsa.
hawa nafsu senantiasa merusak hubungan manusia dengan Khalik, dan hubungan baik antara manusia dengan sesama makhluk.
karena hawa nafsulah, dunia selalu ribut dan kacau,
karena hawa nafsu perang saudara berkobar,
karena hawa nafsu kawan menjadi lawan, kerukunan hidup bermasyarakat menjadi berantakan dan manusia menjadi pemalas,
karena hawa nafsu pula terjadi hasud-menghasud antara kawan sekerja, rumah tanggga tidak harmonis, pertengkaran antar tetangga tidak terhindarkan,
karena hawa nafsu terjadi korupsi, perampokan, pembunuhan, jegal-menjegal dan semua perbuatan yang merusak.


Betapa binatang-binatang itu rela 'karena Allah' untuk diqurbankan.
binatang-binatang itu ingin sekali naik derajatnya, bisa jadi para binatang itu sudah bosan hidup dalam nafsu kehewanannya. Ia rela dimakan manusia 'umat Islam' agar derajatnya naik, dari binatang menjadi daging yang dimakan manusia, lalu menjadi daging manusia... dan kelak di akhirat dipanggil dengan panggilan manusia, Bukan wedhus lagi, bukan sapi juga bukan kebo...

Seharusnya kita belajar dari binatang qurban itu, kerelaan mereka untuk dialirkan darah kebinatangannya. kenapa kita tidak??....
kenapa kita simpan kebinatangan kita, nafsu-nafsu kita, syahwat kita?...

sombong, congkak, takabur, riya', ghibah, fitnah, tamak, rakus, 'ujub, hasud, mencari kambing hitam, adu domba, ghoshob, maling, main, mabuk, madam, madat, wa'ala aalihi wa shohbih...

"Bukankah itu semua adalah sifat-sifat kebinatangan kita???...."